Selasa, 17 November 2015

Dalam Mengelola Seni, Masyarakat Harus Terlibat (dok.radarindonesianews.com)


A Kasim Achmad Pembela Seni Teater Tradisi (dok.gapuranews.com)


Zak Sorga - 16 November 2015

PENDIDIKAN, BIROKRASI SENI DAN PERGULATAN TEATER TIMUR DAN BARAT - 80 Tahun A. Kasim Ahmad

Sebuah buku teater setebal 540 halaman, ditulis oleh 42 orang Tokoh Teater Indonesia, budayawan, kritikus dan pengamat Teater serta dosen teater telah terbit sebagai penghormatan untuk A. Kasim Ahmad 80 tahun (Seorang Tokoh Teater Tradisi).

Alhamdulillah ditengah kesibukan saya mempersiapkan pentas REVOLUSI BURUNG - Teater Kanvas di TIM, pertunjukan Wayang Daun , jadi Pengamat Festival Teater Jakarta Selatan dan shooting sinetron saya bisa ikut andil sebagai penulis. Tulisan saya yang berjudul "Menyutradarai Teater, Menyutradarai Kehidupan," masuk dalam bab "PERGULATAN TEATER TIMUR DAN BARAT"

Terimakasih Hafash Giring Angin yg menghubungi dan memaksa saya untuk merumuskan sebagian konsep berteater saya.

Para Penulis al :

Sapardi Joko Damono, Putu Wijaya , Remy Silado , Nano Riantiarno , Zak Sorga , Azuzan Jg , Dindon , Rita Matu Mona , Jose Rizal Manua. Rudolf Puspa, Hafash Giring Angin, Haris Harris Priadie Bah dll.

Azuzan Jg - 15 November 2015

Nyanyian Saluang untuk Pak Kasim

Seperempat abad lalu. Semasa kami kuliah di IKJ. Kami mempelajari teater modern dan teater tradisi. Dalam pandangan banyak mahasiswa saat itu, teater tradisi adalah pelajaran teater yang nggak keren. Jauh dari simbol-simbol modern. Dalam teater tradisi itu, unsur musiknya cukup dominan. Tapi iramanya tak bersesuaian dengan selera anak muda seperti kami. Pakaian yang dipakai untuk pertunjukannya dimata kami itu kampungan. Penuh pernak-pernik, bling-bling berkilauan. Gerak-geriknya penuh pakem-pakem bersilat, menari, yang amat sukar untuk diikuti. Bahasanya penuh petatah-petitih bahasa lama. Sedangkan kami bukan lagi anak Betawi, bukan anak Jawa, Batak, Maluku, Minang atau Sunda. Kami adalah anak-anak muda yang tercerabut dari akar budayanya. Kami berpakaian jeans dan berjalan dengan irama Rock and Roll. Kami menikmati film-film hollywood dan meniru tingkah laku bintang filmnya ketika bergaya. Kota-kota besar di dunia dan tingkah laku manusia-manusianya, jadi kiblat bagi penampilan kami.

Pendek kata teater tradisi bagi kami saat itu, seperti lobang-lobang di jalanan yang mesti kami hindari ketika kami ngebut diatas motor di jalan-jalan desa. Itu kami anggap warisan orang-orang tempo doeloe yang tak sesuai lagi dengan tuntutan kekinian jamannya. Iramanya lamban. Terseok-seok ditengah laju tempo kehidupan yang sedang berjalan. Selain itu, cerita-ceritanya seperti asal-asalan. Tak berkonsep. Cuma berdasar improvisasi-improvisasi. Oleh sebab itu gampang kami anggap, mutu teater tradisi itu tak tinggi.

Di sisi lain, teater modern kami anggap lebih beradab. Sebab dia datang dari dunia yang kami anggap lebih keren, maju, dan beradab. Dia memenuhi impian-impian kami yang bercelana jeans dan bermusik rock and roll. Kami begitu mudah percaya, teater modern itu luar biasa. Sebab sejak ribuan tahun sudah ada konsepnya. Dari Yunani sampai Inggris, Amerika atau Rusia, ada naskah tertulisnya. Ada sekolahnya. Nama-nama besar penulis drama, bermunculan dari negeri-negeri Barat sana. Penuh sesak memenuhi kepala.

Kami terpesona.

Lalu, bisik-bisik diantara kami sebagai mahasiswa masa itu beredar. Teater tradisi tertinggal jauh dari jamannya. Bertele-tele. Jadi tak perlu serius lah kau mempelajarinya. Buat apa suntuk belajar teater baheula itu, sedangkan kita hidup di abad modern dan berbudaya? Buang-buang waktu saja. Tak ada gunanya. Tapi sebab itu ada dalam kurikulumnya, terpaksa kami pelajari juga. Ogah-ogahan mengikutinya buat sekedar tambahan nilai di kelasnya. Mula-mula terasa berat, tapi lama-lama ternyata asyik juga.

Simbol-simbol yang dibawa peradaban modern masa itu begitu memukau kami. Itu membutakan mata kami. Jauh hari setelah puluhan tahun berlalu, setelah kami telusuri perjalanan teater modern sampai ke negeri asalnya, ternyata mereka yang kami anggap manusia-manusia modern itu mempelajari juga teater tradisi – untuk memperkaya ekspresi teaternya. Kita sebut sederet nama, dari Bertold Brecht, Artaud, Peter Brook, sampai Eugenio Barba. Kami yang ketika itu berkiblat pada budaya mereka, ternyata mereka sendiri melihat kekeringan jiwa manusia dalam kehidupan budayanya. Lalu mereka menoleh ke timur, mempelajari teater tradisi mereka.

Memang, sampai saat ini pun kata modern dan simbol-simbol yang menyertainya begitu mudah mempesona anak-anak muda. Padahal itu sekaligus juga mudah membuat keliru anggapan tentangnya. Kami saat itu ternyata hanya menyerap simbol-simbol modern dari kulit luarnya saja. Upaya-upaya manusia untuk menjadi modern itu, yakni kegemaran tanpa henti mempelajari ilmu pengetahuan, tak kami ketahui. Kami begitu kagum pada kebebasan-kebebasan yang ditawarkannya. Kami kagum pada saat mereka berlibur ke tempat-tempat indah di negeri ini. Sedikitpun tak kami ketahui, bahwa mereka memakai bikini atau bertelanjang dada datang kemari, untuk melepaskan diri dari stress di kehidupan di kota-kota modern mereka.
Modern. Begitu mempesona. Apakah itu bukan kekeliruan penandaan zaman yang kita adopsi begitu saja? Bukankah istilah modern itu mencuat sehubungan dengan revolusi industri abad ke tujuh belas di Eropa sana? Alangkah keblingernya kami memahaminya. Sudah 300 tahun berlalu, dan itu kami puja-puja sebagai penanda modernnya. Betapa tololnya. Kami sekedar memandang bahwa konsep-konsep tertulis dari bangsa-bangsa dari negeri barat itu adalah lebih tinggi mutunya. Padahal, bangsa-bangsa berbudaya dan berkonsep itu, merekalah yang kemudian melakukan ekspansi-ekspansi ke nusantara dan negeri bangsa-bangsa timur lainnya.

Memang masa itu telah berlalu. Tapi jejak-jejak kolonial itu masih tersisa. Kita bisa mengujinya melalui satu pertanyaan sederhana. Kita tahu, segala upaya yang giat dilakukan untuk membuahkan devisa, seperti eksploitasi migas, tambang, perkebunan massal, adalah buah dari pemikiran-pemikiran modern. Tapi apakah benar, melalui apa yang kita sebut buah pemikiran modern itu, negeri kita mengalami kemajuan pesat menyamai negeri-negeri di Barat sana? Bukankah kerakusan-kerakusan manusia-manusianya adalah juga sebagai buah dari kehidupan modern yang pernah kami puja-puja?

Bertahun-tahun setelah kekeliruan pandangan itu berlalu, akhirnya kami sadari. Teater tradisi memang sering ditemukan tidak memakai naskah tertulis. Ia diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya secara lisan dan peragaan. Tetapi itu bukan berarti ia sama sekali tidak memiliki konsep. Meski ceritanya dimainkan secara improvisasi, tetapi segala gerak-gerik dan irama bermain di dalamnya, itu adalah sebuah konsep yang hidup dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Konsep tak tertulis itu, mampu memberi inspirasi bagi suatu ungkapan ekspresi. Ini lah yang menarik minat teaterawan dari berbagai belahan dunia untuk mempelajarinya.

Dan teater tradisi Randai, yang semula tidak memiliki naskah tertulis, melalui Pak Kasim Achmad menjadi ada naskahnya. Dan kami sebagai mahasiswa yang datang dari berbagai latar budaya, bisa bersama-sama menari dan bersilat-silat sambil bercerita.

Pak Kasim menuliskan naskah Randai Bujang Panjudi, saya tafsir, adalah untuk menunjukkan bahwa teater tradisi itu bisa dikonsepkan. Ia bisa berdiri sejajar dengan teater modern. Naskah itu, pernah kami pentaskah 15 tahun lalu dalam festival seni mahasiswa Asean di Malaysia. Naskah Randai tertulis itu, kemudian dipentaskan oleh mahasiswa Hawai.

Melalui Pak Kasim Achmad, kami sebagai mahasiswa lambat laun menyadari, betapa kaya unsur-unsur dan kandungan seni dalam teater tradisi. Disitu tidak hanya ada cerita, tetapi musik, tari, pantun-pantun, berisi ajaran-ajaran. Mengajak manusia-manusianya untuk jadi lebih baik melakoni kehidupannya.

Terima kasih untuk Pak Kasim Achmad. Dan juga ke seluruh guru-guru teater tradisi.

Wassalam - Jakarta, 11 November 2015

Silaturahmi Seni Dalam Rangka Temu Kangen Bersama Tokoh dan Pemerhati Teater Tradisional A Kasim Achmad, Rabu, 11 November 2015, Pkl. 19.00 WIB s.d Selesai, Kemendikbud RI & IKJ, Gallery Nasional.